Kamis, 05 Januari 2012

KOMPETENSI GURU

MAKALAH
KOMPETENSI GURU










OLEH :
MAHDI AKBAR RAMBE
NPM : 07-01-145




Program Studi : Pendidikan Agama Islam
BADAN LAYANAN UMUM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MANDAILING NATAL
( B L U – S T A I M )
PANYABUNGAN
2012



KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Ilahi Robbi yang telah melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya. Sholawat serta salam semoga tetap abadi pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta segenap Sahabat dan seluruh pengikutnya.
Penulis menyadari bahwa didalam penyusunan Makalah ini, banyak menemui kesulitan dan hambatan, namun berkat bantuan, bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak. Untuk itu sudah sepatutnya apabila dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
  1. Ibu Kholidah Nur, MA selaku dosen mata kuliah profesi keguruan yang penuh kesabaran membimbing dan mengarahkan serta memberi motivasi agar tidak putus asa dan tetap semangat.
  2. Ayah dan Ibu, yang telah memberikan bantuan baik moril, materiil dan spiritual sehingga kami masih tetap eksis menimba ilmu di Kampus yang kita cintai ini.
  3. Buat kawan-kawan di STAIM Jurusan PAI, yang telah memberikan dorongan dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan Makalah ini, yang tak mungkin penulis sebutkan satu persatu.
  4. Tiada kata yang dapat penulis berikan sebagai balas budi, selain untaian do’a semoga amal beliau dibalas dan diterima serta diampuni segala dosa-dosanya disisi Allah SWT.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, karena keterbatasan kemampuan yang penulis miliki mengingat penulis adalah manusia biasa yang tak luput dari kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan kritik, saran dan masukan yang bersifat konstruktif demi sempurnanya penyusunan Makalah ini.
Dan akhirnya penulis berharap semoga Makalah ini bisa bermanfaat khususnya bagi penulis dan pembaca pada umumnya.

Panyabungan, Januari 2012
DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah 2

BAB II : PEMBAHASAN
A. Pengertian Kompetensi Guru 3
B. Macam-Macam Kompetensi Guru 5
1. Kompetensi Paedagogik 5
2. Kompetensi Kepribadian 10
3. Kompetensi Profesional 17
4. Kompetensi Sosial 23

BAB III : PENUTUP
A. Kesimpulan 25
B. Saran 25

DAFTAR PUSTAKA 26 


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pelaksanaan pembelajaran merupakan kegiatan yang sangat rutin dilakukan dalam lembaga pendidikan. Pelaksanaan pembelajaran juga harus didukung oleh iklim yang kondusif, sehingga tercipta suasana yang aman, nyaman dan tertib. Iklim yang demikian akan mendorong terwujudnya pelaksanaan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektip dan bermakna. Suasana ini juga akan memupuk tumbuhnya kemandirian adaptif proaktif, ulet, inovatif dan berani mengambil resiko.
Pelaksanaan pembelajaran juga harus mampu membuat siswa menggunakan pikiran, nalar dan perbuatan secara efektif dan efisien. Dengan demikian keterampilan guru juga harus dapat membuat siswa mampu memfungsikan daya pikir dan kreasi secara efektif guna mencapai tujuan. Kemampuan-kemampuan tersebut antara lain berbentuk kemampuan mengidentifikasikan, mengklasifikasikan, menghitung, mengukur, mengamati, mencari hubungan, menafsirkan, menyimpulkan, menerapkan, mengkomunikasikan dan mengekpresikan diri ke dalam suatu karya.
Hal terpenting juga dalam pelaksanaan pembelajaran adalah komponen-komponen pembelajaran. Komponen-komponen yang berpengaruh dalam pembelajaran terdiri dari siswa, kurikulum, guru, metode, sarana dan prasarana serta lingkungan.
Diantara komponen-komponen pembelajaran tersebut menurut penulis yang terpenting adalah komponen guru dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan bahwa gurulah yang memegang peranan dalam pembelajaran, artinya gurulah yang harus mengenal kurikulum, menggunakan metode yang sesuai dengan materi, menggunakan sarana dan prasarana. Guru juga harus mengenal siswa baik keadaan maupun kemampuan siswa, guru juga harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi siswa.
Kemampuan dan kecakapan sangat dituntut bagi seorang guru. Karena itu seorang guru harus memiliki kecakapan dan keahlian tentang keguruan. Kemampuan dan kecakapan merupakan modal dasar bagi seorang guru dalam melakukan kegiatan atau tugasnya. Mengajar adalah membimbing kegiatan siswa, mengatur dan mengorganisasikan lingkungan yang ada disekitar siswa sehingga dapat mendorong dan menumbuhkan semangat siswa untuk melakukan kegiatan belajar.
Kompetensi adalah sesuatu yang mutlak dimiliki oleh setiap guru dalam kegiatan pengelolaan pembelajaran. Dalam kenyataan guru yang mempunyai kompetensi mengajar yang baik dalam proses pembelajaran tidaklah mudah ditemukan, disamping itu kompetensi mengajar guru bukanlah persoalan yang berdiri sendiri tetapi dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya faktor latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar dan training keguruan yang pernah diikuti. Dengan demikian guru yang mempunyai kompetensi mengajar akan mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan menyenangkan serta akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat optimal.
Bertitik tolak dari hal tersebut penulis mencoba untuk menuliskannya dalam sebuah makalah yang berjudul: “Kompetensi Guru”

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang penulis kemukakan di atas, maka yang menjadi topik permasalahan ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa pengertian Kompetensi guru ?
2. Apa pengertian kompetensi paedagogis guru ?
3. Apa pengertian kompetensi kepribadian guru ?
4. Apa pengertian kompetensi profesional guru ?
5. Apa pengertian kompetensi sosial guru ? 



BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kompetensi Guru
Guru adalah unsur manusiawi dalam dunia pendidikan. Guru merupakan figur manusia sumber yang menepati posisi dan memegang peranan penting dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu guru yang menempati posisi dan memegang peranan penting dalam dunia pendidikan harus memiliki kompetensi (kemampuan) dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai pengajar. Dalam dunia pendidikan yang semakin maju, guru harus peka dan tanggap terhadap perubahan-perubahan, pembaharuan serta ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang sejalan dengan tuntutan kebutuhan masyarakat dan perkembangan jaman. Disinilah guru harus senantiasa meningkatkan wawasan ilmu pengetahuan, meningkatkan kualitas pendidikannya sehingga apa yang diberikan kepada siswa tidak ketinggalan dengan perkembangan dan kemajuan jaman. Untuk itulah guru harus memiliki kompetensi (kemampuan) agar tugasnya sebagai pembimbing, pengajar dan pelatih dapat terlaksana dengan baik.
Dalam pendidikan formal di sekolah, guru merupakan komponen yang penting dalam meningkatkan mutu pendidikan. Ini disebabkan guru berada di barisan terdepan dalam pelaksanaan pendidikan. Guru merupakan komponen yang paling berpengaruh terhadap terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Dengan demikian upaya perbaikan apapun yang dilakukan untuk meningkatkan pendidikan tidak akan memberikan sumbangan yang signifikan tanpa didukung oleh guru yang profesional dan berkompeten. Oleh sebab itu diperlukan sosok guru yang mempunyai kualifikasi, kompetensi dan dedifikasi yang tinggi dalam menjalankan tugas profesionalnya.
Satu kunci pokok dan tugas kedudukan guru sebagai tenaga profesional menurut ketentuan pasal 4 UU Guru dan Dosen adalah sebagai agen pembelajaran (Learning Agent) yang berfungsi meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Sebagai agen pembelajaran guru memiliki peran sentral yang cukup strategis antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa, dan pemberi inpirasi belajar bagi peserta didik.
Guru yang profesional pada intinya adalah guru yang memiliki kompetensi dalam melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Kompetensi berasal dari kata competency, yang berarti kemampuan atau kecakapan. Menurut kamus bahasa Indonesia, kompetensi dapat diartikan (kewenangan) kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan suatu hal. Istilah kompetensi sebenarnya memiliki banyak makna yang diantaranya adalah sebagai berikut:
Menurut Usman, kompetensi adalah suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik yang kualitatif maupun kuantitatif.
Charles E. Johnson, mengemukakan bahwa kompetensi merupakan perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Kompetensi merupakan suatu tugas yang memadai atas kepemilikan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dituntut oleh jabatan seseorang. Kompetensi juga berarti sebagai pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.
Pengertian kompetensi ini, jika digabungkan dengan sebuah profesi yaitu guru atau tenaga pengajar, maka kompetensi guru mengandung arti seperangkat penguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan kinerjanya .
Berawal dari keterangan di atas, bahwa kompetensi merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pendidikan dan pengajaran. Maka kompetensi yang dimiliki, diharapkan seorang guru mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pembimbing, pengajar dan pelatih.

B. Macam-Macam Kompetensi Guru
Dalam menjalankan fungsi sebagai guru hendaknya memiliki sejumlah pengetahuan/keterampilan dan kreatifitas serta tanggung jawab agar dapat melakukan tugasnya sebagaimana guru yang profesional dan berdedikasi tinggi. Seorang guru harus memiliki kemampuan dalam bidang ilmu yang diajarkan, memiliki kemampuan mengajar yang baik dari mulai perencanaan pengajaran, menyusun program pengajaran, melaksanakan prosedur pengajaran, mengelola pembelajaran, mengembangkan teknik dan media pengajaran serta melakukan evaluasi pembelajaran dan memiliki loyalitas keguruan.
Sebagaimana diterangkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yaitu: ”kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi, keempat kompetensi ini saling berkaitan.

1. Kompetensi Paedagogik
Guru memiliki pengaruh luas dalam dunia pendidikan. Di sekolah ia adalah pelaksana administrasi pendidikan yaitu bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik. Oleh karena itu, guru harus memiliki kompetensi dalam mengajar. Kompetensi pedagogik merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam jenjang pendidikan apapun. Kompetensi-kompetensi yang lainnya adalah kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional.
Adapun kompetensi pedagogik yang harus dimiliki oleh guru meliputi:
a. Pemahaman Terhadap Peserta Didik
Pemahaman terhadap peserta didik merupakan salah satu kompetensi pedagogik yang harus dimiliki oleh guru. Sedikitnya ada empat hal yang harus dipahami guru dari peserta didiknya, yaitu:
1) Tingkat Kecerdasan
Kecerdasan seseorang terdiri dari beberapa tingkat yaitu : golongan terendah adalah mereka yang IQ-nya antara 0-50 dan di katakan idiot. Golongan kedua adalah mereka yang ber-IQ antara 50-70 yang dikenal dengan golongan moron yaitu keterbatasan mental.Golongan ketiga yaitu mereka yang ber-IQ antara 70-90 disebut sebagai anak lambat atau bodoh. Golongan menengah merupakan bagian yang besar jumlahnya yaitu golongan yang ber-IQ 90-110. Mereka bisa belajar secara normal. Sedangkan yang ber IQ 140 ke atas disebut genius, mereka mampu belajar jauh lebih cepat dari golongan lainnya.
2) Kreativitas
Setiap orang memiliki perbedaan dalam kreativitas baik inter maupun intra individu. Orang yang mampu menciptakan sesuatu yang baru disebut dengan orang kreatif. Kreativitas erat hubungannya dengan intelegensi dan kepribadian. Seseorang yang kreatif pada umumnya memiliki intelegensi yang cukup tinggi dan suka hal-hal yang baru. Sedangkan seseorang yang tingkat intelegensinya rendah, maka kreativitasnya kurang dan suka hal-hal yang biasa.
3) Cacat Fisik
Kondisi fisik berkaitan dengan penglihatan, pendengaran, kemampuan berbicara, pincang (kaki), lumpuh karena kerusakan otak. Guru harus memberikan layanan yang berbeda terhadap peserta didik yang memiliki kelainan seperti diatas dalam rangka membantu perkembangan pribadi mereka. Misalnya dalam hal jenis media yang digunakan, membantu dan mengatur posisi duduk dan lain sebagainya.
4) Perkembangan Koqnitif
Pertumbuhan dan perkembangan dapat diklasifikasikan atas koqnitif, psikologis dan fisik. Pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan perubahan struktur dan fungsi karakteristik manusia. Perubahan tersebut terjadi dalam kemajuan yang mantap dan merupakan proses kematangan. Perubahan ini merupakan hasil interaksi dari potensi bawaan dan lingkungan.
b. Perancangan Pembelajaran
Perancangan pembelajaran merupakan salah satu kompetensi pedagogik yang harus dimiliki guru yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran. Dalam pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan dan mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan.
Hal ini mencakup tiga kegiatan yaitu:
1) Identifikasi Kebutuhan
Kebutuhan merupakan sesuatu yang harus dipenuhi untuk mencapai tujuan. Identifikasi kebutuhan bertujuan untuk melibatkan dan memotivasi peserta didik agar kegiatan belajar dirasakan sebagai bagian dari kehidupan mereka dan mereka merasa memilikinya.
2) Identifikasi Kompetensi
Kompetensi merupakan sesuatu yang ingin dimiliki oleh peserta didik dan berperan penting dalam menentukan arah pembelajaran. Kompetensi akan memberikan petunjuk yang jelas terhadap materi yang harus dipelajari, penetapan metode dan media pembelajaran serta penilaian. Oleh karena itu kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak (Thinking Skill).
3) Penyusunan Program Pembelajaran
Penyusunan program pembelajaran akan bermuara pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), sebagai produk program pembelajaran jangka pendek, yang mencakup komponen program kegiatan belajar dan proses pelaksanaan program.
c. Pelaksanaan Pembelajaran Yang Mendidik dan Dialogis
Dalam peraturan pemerintah tentang guru dijelaskan bahwa guru harus memiliki kompetensi untuk melaksanakan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Hal ini berarti bahwa, pelaksanaan pembelajaran harus berangkat dari proses dialogis antar sesama subjek pembelajaran sehingga melahirkan pemikiran kritis dan komunikatif. Dalam pembelajaran tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku dan pembentukan kompetensi peserta didik.
d. Pemanfaatan Teknologi Pembelajaran
Teknologi pembelajaran merupakan sarana pendukung untuk memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran dan pembentukan kompetensi, memudahkan penyajian data, informasi, materi pembelajaran dan variasi budaya. Oleh karena itu, memasuki abad 21, sumber belajar dengan mudah dapat diakses melalui teknologi informasi, khususnya internet yang didukung oleh komputer. Perubahan prinsip belajar berbasis komputer memberikan dampak pada profesionalisme guru, sehingga harus menambah pemahaman dan kompetensi baru untuk menfasilitasi pembelajaran. Dalam hal ini, guru dituntut untuk memiliki kemampuan mengorganisir, menganalisis dan memilih informasi yang paling tepat berkaitan dengan pembentukan kompetensi dan tujuan pembelajaran.
e. Evaluasi Hasil Belajar
Evaluasi atau penilaian memegang peranan penting dalam segala bentuk pengajaran yang efektif. Berhasil tidaknya suatu pendidikan dalam mencapai tujuannya dapat dilihat dari hasil evaluasinya. Evaluasi dapat dilakukan untuk mengetahui perubahan perilaku dan pembentukan kompetensi peserta didik yang dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
1) Penilaian Kelas
Penilaian kelas dilakukan untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik, memperbaiki proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik serta menentukan kenaikan kelas. Penilaian kelas dilakukan dengan ulangan harian dan ujian akhir.
2) Tes Kemampuan Dasar
Tes kemampuan dasar dilakukan untuk mengetahui kemampuan membaca, menulis, dan berhitung yang diperlukan dalam rangka memperbaiki program pembelajaran (program remedial). Tes ini dilakukan pada setiap tahun akhir kelas III.
3) Penilaian Akhir Satuan Pendidikan Dan Sertifikasi
Penilaian ini dilakukan setiap akhir semester dan tahun pelajaran untuk mendapatkan gambaran secara utuh dan menyeluruh mengenai ketuntasan belajar peserta didik dalam satuan waktu tertentu dan juga untuk keperluan sertifikasi, kinerja dan hasil belajar yang dicantumkan dalam Surat Tanda Tamat Belajar (STTB).
4) Benchmarking
Merupakan suatu standar untuk mengukur kinerja yang sedang berjalan, proses, dan hasil untuk mencapai keunggulan yang memuaskan. Keunggulan ini dapat ditentukan ditingkat sekolah, daerah atau nasional. Untuk dapat memperoleh data dan informasi tentang pencapaian Benchmarking dapat diadakan penilaian secara nasional yang dilakukan pada akhir satuan pendidikan.
5) Penilaian Program
Penilaian program ini dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional dan Dinas Pendidikan secara continue dan berkesinambungan. Penilaian ini dilakukan untuk mengetahui kesesuaian kurikulum dengan dasar, fungsi dan tujuan pendidikan nasional serta kesesuaiannya dengan tuntutan perkembangan masyarakat dan kemajuan zaman.
f. Pengembangan Peserta Didik
Pengembangan peserta didik dapat dilakukan oleh guru melalui berbagai cara antara lain:
1) Kegiatan Ekstra Kurikuler
Kegiatan ini sering disebut dengan ekskul yang merupakan kegiatan yang dilakukan di luar kelas dan di luar jam pelajaran (kurikulum) untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki oleh peserta didik.
2) Pengayaan dan Remedial
Sekolah perlu memberikan perlakuan khusus terhadap peserta didik yang mengalami kesulitan belajar dengan kegiatan remedial. Sedangkan peserta didik yang cemerlang diberikan kesempatan untuk mempertahankan kecepatan belajarnya melalui program pengayaan.
3) Bimbingan dan Konseling (BK)
Sekolah berkewajiban memberikan bimbingan dan konseling kepada peserta didik meliputi, pribadi, sosial, belajar dan karier. Selain guru pembimbing, guru mata pelajaran yang memenuhi kriteria pelayanan bimbingan dan karier diperbolehkan menjadi guru pembimbing. Oleh karena itu, guru mata pelajaran harus senantiasa berdiskusi dan berkoordinasi dengan guru bimbingan dan konseling secara rutin dan berkesinambungan.

2. Kompetensi Kepribadian
Kompetensi personal (kepribadian) guru didefinisikan sebagai kemampuan seorang guru yang berkaitan langsung dengan pribadi masing-masing guru terhadap individu yang unik yang berbeda dengan guru lainnya, menyangkut sifat serta sikap, baik terhadap diri sendiri, orang lain yaitu peserta didik yang terlihat dari cara memperlakukan, menyampaikan materi, juga terhadap orang lain, terutama di lingkungan sekolah. Hal ini tercermin dari ucapan serta tindakan dalam berinteraksi.
Sedangkan menurut Undang-undang Guru dan Dosen pada Bab IV, pasal 10 ayat (1) yang dimaksud kompetensi personal (kepribadian) adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik.
Bagi guru Al-Quran Hadist kompetensi personal (kepribadian) menjadi kunci utama keberhasilan pengajarannya. Ia bertugas menanamkan nilai-nilai Islam sehingga peserta didik berkomitmen untuk melaksanakan nilai-nilai Islam tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu guru harus terlebih dahulu berperilaku Islami serta menjadi teladan bagi peserta didiknya.
Seorang guru dituntut untuk memiliki kepribadian yang baik karena disamping mengajarkan ilmu guru juga membimbing dengan membina anak didiknya. Tingkah laku dan perbuatannya harus dapat dijadikan sebagai teladan.
Dengan kata lain guru harus bersikap yang terbaik dan konsekuen terhadap perkataan dan perbuatannya, karena guru adalah sentral figure yang akan dicontoh dan diteladani anak didiknya, mengenai hal ini Allah SWT berfirman:



“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri …” (QS. Al-Baqarah: 44).

Kompetensi personal guru Al-Qur’an Hadist merupakan kepribadian mantap yang dapat menjadi sumber identifikasi bagi anak didiknya. Termasuk ke dalam sifat-sifat pribadi seorang muslim yang beriman dan bertaqwa berakhlak mulia dan integritas yang tinggi.
Dari uraian di atas, dapat penulis sampaikan bahwa kompetensi personal berkaitan dengan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh guru Al-Qur’an Hadist sebagai seorang muslim yang beriman dan bertaqwa, berakhlak mulia dan integritas yang tinggi. Guru sebagai teladan harus memiliki akhlak yang mulia, karena anak didik bersifat suka meniru, yang dimaksud akhlak mulia adalah akhlak yang sesuai dengan ajaran Islam, seperti dicontohkan oleh pendidik utama, Muhammad Saw.
Setiap guru mempunyai pribadi masing-masing sesuai ciri-ciri pribadi yang mereka miliki. Ciri-ciri inilah yang membedakan seorang guru dari guru lainnya. Menurut Zakiah Darajat :
”Kepribadian yang sesungguhnya adalah abstrak (ma’nawi) sukar dilihat atau diketahui secara nyata, yang dapat diketahui adalah penampakan atau bekasnya dalam segala segi dan aspek kehidupan. Misalnya dalam tindakannya, ucapan, caranya bergaul, berpakaian dan dalam menghadapi setiap persoalan atau masalah, baik yang ringan maupun yang berat.”

Cara guru berbicara, berjalan dan bergaul merupakan tampilan kepribadian guru terhadap fungsinya, bagi anak didiknya; apakah ia sebagai pemimpin yang menyuruh, memerintah dan mengendalikan? Sedangkan anak didik adalah yang dipimpin harus patuh, menurut dan menerima. Ataukah ia sebagai pembimbing yang mengerti dan memuji apakah suasana bagi anak didiknya. Ia hidup dan aktif dalam kegiatannya.
Faktor terpenting bagi seorang guru adalah kepribadiannya dan kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya ataukah menjadi perusak atau penghancur bagi hari depan anak didik. Bahkan menurut al-Ghazali kepribadian seorang pendidik lebih penting dari ilmu yang dimilikinya, karena kepribadian seorang pendidik akan ditiru dan diteladani oleh anak didiknya, baik secara sengaja maupun tidak sengaja dan baik secara langsung maupun tidak langsung. Adapun kepribadian guru menurut Al-Ghazali adalah sebagai berikut:
a. Guru hendaknya memandang murid seperti anaknya sendiri, menyayangi dan memperlakukan mereka seperti layaknya anak sendiri.
b. Dalam menjalankan tugasnya, guru hendaknya tidak mengharapkan upah atau pujian, tetapi hendaknya mengharapkan keridlaan Allah dan berorientasi mendekatkan diri kepada-Nya.
c. Guru hendaknya memanfaatkan setiap peluang untuk memberi nasihat dan bimbingan kepada murid bahwa tujuan menuntut ilmu ialah mendekatkan diri kepada Allah, bukan memperoleh kedudukan atau kebanggan duniawi.
d. Terhadap murid yang bertingkah laku buruk, hendaknya guru menegurnya sebisa mungkin dengan cara menyindir dan penuh kasih sayang, bukan dengan terus terang dan mencela, sebab teguran yang terakhir dapat membuat murid berani membangkang dan sengaja terus menerus bertingkah laku buruk.
e. Hendaknya guru tidak fanatik terhadap bidang studi yang diasuhnya, lalu mencela bidang studi yang diasuh guru lain. Sebaliknya, hendaknya ia mendorong murid agar mencintai semua bidang studi yang diasuh guru-guru lain.
f. Hendaknya guru memperhatikan fase perkembangan berfikir murid agar dapat menyampaikan ilmu sesuai dengan kemampuan berfikir murid.
g. Hendaknya guru memperhatikan murid yang lemah dengan memberinya pelajaran yang mudah dan jelas, serta tidak menghantuinya dengan hal-hal yang serba sulit dan dapat membuatnya kehilangan kecintaan terhadap pelajaran.
h. Hendaknya guru mengamalkan ilmu, dan tidak sebaliknya bertentangan dengan ilmu yang diajarkannya kepada murid.
Athiyah Al-Abrasyi mengutarakan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh guru sebagai berikut :
a. Zuhud
Tidak mengutamakan materi dan mengajar karena mencari keridlaan Allah Semata.
b. Kebersihan Guru
Seorang guru harus bersih tubuhnya, jauh dari dosa dan kesalahan, bersih jiwa, terhindar dari dosa besar, sifat ria (mencari nama), dengki, permusuhan, perselisihan dan lain-lain sifat yang tercela.
c. Ikhlas dalam pekerjaan
Keikhlasan dan kejujuran seorang guru di dalam pekerjaannya merupakan jalan terbaik ke arah suksesnya di dalam tugas dan sukses murid-muridnya.
d. Seorang guru merupakan seorang bapak sebelum ia seorang guru
Seorang guru harus mencintai murid-muridnya seperti cintanya terhadap anak-anaknya sendiri dan memikirkan keadaan mereka seperti ia memikirkan keadaan anak-anaknya sendiri.
b. Harus mengetahui tabi’at murid.
Guru harus mengetahui tabiat pembawaan, adat kebiasaan, rasa dan pemikiran murid agar ia tidak kesasar di dalam mendidik anak-anak.
c. Harus menguasai mata pelajaran
Seorang guru harus sanggup menguasai mata pelajaran yang diberikannya, serta memperdalam pengetahuannya tentang itu sehingga janganlah pelajaran itu bersifat dangkal.
Seorang guru harus dapat menjadi panutan bagi peserta didiknya, maka ia harus memiliki akhlak yang agung, sebagaimana dalam diri Rasulullah saw.
Untuk lebih rincinya, bahwa akhlak mulia bagi seorang guru muslim sebagai sifat-sifat terpuji yang harus dimilikinya adalah sebagai berikut:
a. Ikhlas dan tidak tamak
Ikhlas adalah sikap murni dalam tingkah laku dan perbuatan, semata-mata demi memperoleh ridla atau perkenaan Allah, dan bebas dari pamrih lahir dan batin tertutup maupun terbuka. Dengan sikap yang ikhlas orang akan mampu mencapai tingkat tertinggi nilai karsa batinnya dan kaya lahirnya, baik pribadi maupun sosial. Dengan sikap ikhlas pula, manusia tidak akan menganggap bahwa segala sesuatu itu harus diukur dengan materi. Dengan dasar keikhlasan seseorang akan menerima apa yang telah diberikan oleh Allah SWT. Dengan demikian guru bukan hanya semata-mata untuk menambah wawasan keilmuannya lebih jauh dari itu harus ditujukan untuk meraih ridla Allah serta mewujudkan kebenaran. Dengan demikian seorang pendidik semaksimal mungkin menyebarkan kebenaran kepada anak didiknya dan berusaha untuk ikhlas atas segala hal yang telah diperbuatnya.
b. Jujur
Ketika menyampaikan ilmunya kepada anak didik, seorang pendidik harus memiliki kejujuran dengan menerapkan apa yang dia ajarkan dalam kehidupan pribadinya. Jika apa yang diajarkan guru sesuai dengan apa yang dilakukannya, anak didik akan menjadikan gurunya sebagai teladan. Namun jika perbuatan gurunya bertentangan dengan apa yang dikatakan, anak didik akan menganggap apa yang diajarkan gurunya sebagai materi yang masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Yang terpenting guru harus jujur dalam banyak hal, asalkan dapat membawa sikap yang positif bagi peserta didik.
c. Adil dan Taqwa
Taqwa adalah sikap yang sadar dan penuh bahwa Allah selalu mengawasi kita, kemudian kita berusaha berbuat hanya sesuatu yang diridlai Allah, dengan menjaga diri dari sesuatu yang diridlai-Nya. Sikap taqwa harus selalu dijaga dalam mengembangkan potensi dan dalam kondisi apapun. Begitu juga guru harus bersikap adil diantara peserta didiknya, tidak cenderung kepada salah satu golongan diantara mereka, dan tidak melebihkan seorang atas yang lain, dan segala kebijaksanaan dan tindakannya ditempuh dengan jalan yang benar dan dengan memperhatikan peserta didik sesuatu dengan kemampuan dan perbuatannya. Seorang guru yang selalu berbuat adil, dimana ia berbuat berdasarkan kebenaran berarti berusaha untuk menjadikan orang lebih bertaqwa, yakni melaksanakan apa-apa yang merupakan kebenaran dan meninggalkan apa-apa yang merupakan kesalahan.
d. Sabar
Guru harus sabar dalam mengajarkan berbagai pengetahuan kepada anak-anak. Hal itu memerlukan latihan dan ulanan, bervariasi dalam menggunakan metode, serta melatih jiwa dalam memikul kesusahan. Disamping itu, karena manusia tidak sama dalam kemampuan belajrnya, guru tidak boleh menuruti hawa nafsu, ingin segera melihat hasil kerjanya sebelum pengajarannya itu terserap dalam perbuatan, sebelum tingkah lakunya dikembangkan dan sebelum mereka merasa mapan sehingga tergugah gairahnya untuk mengulangkaji dan mengamalkan yang mereka pelajari dalam hidup dan masyarakat mereka, belajar dan mengajar atas dasar sikap sabar dapat bermuara pda kebangkitan umat.
e. Berwibawa
Wibawa diartikan sebagai sikap dan penampilan yang dapat menimbulkan rasa segan dan rasa hormat sehingga peserta didik merasa memperoleh pengayoman dan perlindungan. Kewibawaan didasari oleh kerelaan, kasih sayang dan kesediaan mencurahkan kepercayaan. Kewibawaan ini dapat terwujud karena kemampuan lebih yang dimiliki oleh guru dibanding dengan peserta didiknya, sehingga membuat yang dididiknya itu menjadi patuh dan tunduk.
f. Bertanggung jawab
Guru sebagai pendidik bertanggung jawab mewariskan nilai-nilai dan norma-norma kepada generasi muda. Sehingga terjadi proses konversi nilai. Bahkan melalui proses pendidikan diusahakan terciptanya nilai-nilai baru.
g. Disiplin
Disiplin merupakan suatu sikap yang menunjukkan kesediannya untuk mematuhi dan mentaati suatu aturan yang berlaku. Penerapan kedisiplinan bertujuan untuk mengarahkan perilaku guru agar sesuai dengan aturan atau kaidah yang berlaku. Guru dalam pandangan siswa adalah seorang yang patut digugu dan ditiru dalam segala tindakannya. Perlu disadari bahwa anak banyak belajar dengan meniru. Anak bertingkah laku baik, dengan meniru cara bertingkah laku dari orang-orang yang ada di lingkungannya. Sehingga guru akan selalu bertingkah laku yang baik karena menjadi sorotan siswa. Di antaranya dengan cara mendisiplinkan diri dalam segala hal meliputi : disiplin tata tertib, disiplin beribadah dan disiplin mengajar.
h. Loyalitas terhadap bangsa dan negara.
Guru dalam menjalankan profesi demi tercapainya tujuan pendidikan nasional. Maka guru harus mau berkorban demi kemajuan bangsa dan negaranya.

3. Kompetensi Profesional
H. M. Arifin berpendapat bahwa kata profesi berasal dari kata profession, profession memiliki makna yang sama dengan kata occupations yang berarti pekerjaan yang memerlukan pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan khusus. Dengan kata lain, profesi dapat diartikan sebagai suatu bidang keahlian khusus menangani lapangan kerja tertentu yang membutuhkan.
Secara teoritis, maka suatu profesi tidak bisa dijalankan atau di pegang oleh sembarang orang yang tidak dididik atau di latih untuk di persiapkan untuk memangku jabatan atau pekerjaan tersebut agar apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab yang dipikulnya dapat dijalankan dengan baik, benar dan sempurna. Dengan arti lain, profesional menunjukkan kepada tuntutan sikap dan komitmen anggota, suatu profesi untuk bekerja berdasarkan standart yang tinggi dan kode etik profesinya.
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwasanya profesionalisme guru adalah suatu keahlian yang harus di miliki oleh seseorang tentang fungsi, tugas atau pekerjaan dalam lingkungan pendidikan berdasarkan keahlian khusus yang di peroleh dari pendidikan atau latihan di lembaga keguruan dalam jangka waktu tertentu dan harus memiliki kompetensi oleh diri guru, sehingga guru dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik.
Setelah di paparkan tentang pengertian Profesional di atas, dapat di ketahui bahwa suatu pekerjaan atau jabatan bisa di sebut sebuah profesi jika memiliki kriteria-kriteria atau Indikator-indikator yang cukup sulit, sehingga tidak semua pekerjaan dapat di katakan sebagai sebuah profesi.
Adapun yang dimaksud kompetensi profesionalisme guru merupakan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara tanggung jawab dan layak.
Indikator-indikator Kompetensi profesionalisme yang harus dimiliki oleh semua dan setiap guru adalah:
1) Menguasai landasan kependidikan
a) Mengenal tujuan pendidikan dasar untuk pencapaian tujuan pendidikan nasional

  • Mengkaji tujuan pendidikan nasional
  • Mengkaji tujuan pendidikan dasar
  • Meneliti kaitan antara tujuan pendidikan dasar dengan tujuan pendidikan nasional
  • Mengkaji kegiatan-kegiatan pengajaran yang menunjang pencapaian tujuan pendidikan nasional
b) Mengenal fungsi sekolah dalam masyarakat
 Mengkaji peranan sekolah sebagai pusat pendidikan dan pusat kebudayaan
 Mengkaji peristiwa-peristiwa yang mencerminkan sekolah sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan
 Berlatih mengelola kegiatan sekolah yang mencerminkan sekolah
sebagai pusat pendidikan dan pusat kebudayaan
 Mengenal prinsip-prinsip psikologi pendidikan yang dapat di manfaatkan dalam proses belajar-mengajar
 Mengkaji jenis perbuatan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap
 Mengkaji prinsip-prinsip belajar
 Berlatih menerapkan prinsip-prinsip belajar dalam kegiatan belajar-mengajar.
2) Menguasai bahan pengajaran
a) Menguasai bahan pengajaran kurikulum pendidikan dasar dan menengah
 Mengkaji kurikulum pendidikan dasar dan menengah
 Menelaah buku teks pendidikan dasar dan menengah
 Menelaah buku pedoman khusus bidang studi
 Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang di nyatakan dalam buku-buku teks dan buku pedoman khusus.
b) Menguasai bahan pengayaan
 Mengkaji bahan penunjang yang relevan dengan bahan bidang studi atau mata pelajaran
 Mengkaji bahan penunjang yang relevan dengan potensi guru.
3) Mengelola program belajar-mengajar
a) Merumuskan tujuan intruksional
 Mengkaji kurikulum bidang studi
 Mempelajari ciri-ciri rumusan tujuan intruksional
 Mempelajari tujuan intruksional bidang studi yang bersangkutan
b) Mengenal dan dapat menggunakan metode mengajar
 Mempelajari macam-macam metode mengajar
 Berlatih menggunakan macam-macam metode mengajar
c) Memilih dan menyusun prosedur intruksional yang tepat
 Mempelajari kriteria pemilihan materi dan prosedur mengajar
 Berlatih menggunakan kriteria pemilihan materi dan prosedur mengajar
 Berlatih merencanakan program pelajaran
 Berlatih menyusun satuan pelajaran
d) Melaksanakan program belajar-mengajar
 Mempelajari fungsi dan peranan guru dalam interaksi belajar- mengajar
 Berlatih menggunakan alat bantu belajar-mengajar
 Berlatih menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar
 Memonitor proses belajar siswa
 Berlatih menyesuaikan rencana program pengajaran dengan situasi kelas
e) Mengenal kemampuan (entry-behavior) anak didik
 Mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian prestasi belajar
 Mempelajari prosedur dan teknik untuk mengidentifikasi kemampuan siswa
 Berlatih menggunakan prosedur dan teknik untuk mengidentifikasi kemampuan siswa
 Berlatih menyusun alat untuk mengidentifikasi kemampuan siswa
f) Merencanakan dan melaksanakan pengajaran remedial
 Mempelajari faktor-faktor penyebab kesulitan belajar
 Berlatih mendiagnosis kesulitan belajar siswa
 Berlatih menyusun rencana pengajaran remedial
 Melaksanakan pengajaran remedial
4) Mengelola kelas (melaksanakan program pengajaran)
a) Mengatur tata ruang kelas untuk pengajaran
 Mempelajari macam-macam pengaturan tempat duduk dan setting ruangan kelas sesuai dengan tujuan-tujuan intruksional yang ingin di capai
 Mempelajari kriteria penggunaan macam-macam pengaturan tempat duduk setting ruangan
b) Menciptakan iklim belajar-mengajar yang serasi
 Mempelajari faktor-faktor yang menggangguiklim belajar-mengajar yang serasi
 Mempelajari strategi dan prosedur pengelolaan kelas yang bersifat preventif
 Mempelajari pendekatan-pendekatan pengelolaan kelas yang bersifat preventif
 Mempelajari pendekatan-pendekatan pengelolaan kelas yang bersifat kuratif
 Berlatih menggunakan prosedur pengelolaan kelas yang bersifat kuratif
5) Menguasai media atau sumber (menyusun program pengajaran)
a) Mengenal, memilih, dan menggunakan media
 Mempelajari macam-macam media pendidikan
 Mempelajari kriteria pemilihan media
 Berlatih menggunakan media pendidikan
 Merawat alat-alat bantu belajar-mengajar
b) Membuat alat-alat bantu pelajaran sederhana
 Mengenali bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekolah untuk membuat alat bantu
 Mempelajari perkakas untuk membuat alat bantu mengajar
 Menggunakan perkakas untuk membuat alat bantu mengajar
c) Menggunakan dan mengelola laboratorium dalam rangka proses belajar-mengajar
 Mempelajari cara-cara menggunakan laboratorium
 Mempelajari cara-cara dan aturan pengamanan kerja di laboratorium
 Berlatih mengatur tata ruang laboratorium
 Mempelajari cara merawat dan menyimpan alat-alat
d) Mengembangkan laboratorium
 Mempelajari fungsi laboratorium dalam proses belajar-mengajar
 Mempelajari kriteria pemilihan alat
 Mempelajari berbagai desain laboratorium
 Berlatih menilai efektifitas kegiatan laboratorium
 Berlatih mengembangkan eksperimen baru
e) Menggunakan perpustakaan dalm proses belajar-mengajar
 Mempelajari fungsi perpustakaan dalam proses belajar-mengajar
 Mempelajari macam-macam sumber kepustakaan
 Berlatih menggunakan macam-macam sumber kepustakaan
 Mempelajari kriteria pemilihan sumber kepustakaan
 Berlatih menilai sumber-sumber kepustakaan
f) Menggunakan micro-teaching unit dalam program pengalaman lapangan
 Mempelajari fungsi micro-teaching unit dalam proses belajar mengajar
 Berlatih menggunakan micro-teaching unit dalam proses belajar mengajar
 Berlatih menyusun program micro-teaching dengan atau tanpa hardware
 Berlatih melaksanakan program micro-teaching dengan tanpa hardware
 Berlatih menilai program dan pelaksanaan micro-teaching
 Berlatih mengembangkan program-program baru
6) Mengelola interaksi belajar-mengajar
a) Mampu membuka pelajaran
 Mampu menyajikan materi
 Mampu menggunakan metode atau strategi
 Mampu menggunakan alat peraga atau media
 Mampu menggunakan bahasa yang komunikatif
 Mampu memotivasi siswa
 Mampu mengorganisasi kegiatan
b) Mampu berinteraksi dengan siswa secara komunikatif
 Mampu menyimpulkan pembelajaran
 Mampu memberikan umpan balik
 Mampu melaksanakan penilaian
 Mampu menggunakan waktu
7) Mampu Menilai hasil dan proses belajar-mengajar yang telah di laksanakan
a) Menilai prestasi murid untuk kepentingan pengajaran
 Mengkaji konsep dasar penilaian
 Mengkaji berbagai tehnik penilaian
 Menyusun alat penilaian
 Mengkaji cara mengolah dan menafsirkan data untuk menetapkan taraf pencapaian murid
 Dapat menyelenggarakan penilaian
b) Menilai proses belajar-mengajar yang telah di laksanakan
 Menyelenggarakan penilaian untuk perbaikan proses belajarmengajar
 Dapat memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan proses belajar-mengajar.
Jadi, dari semua uraian dan penjelasan di atas dapat dipahami bahwasanya yang disebut dengan kompetensi profesionalisme guru adalah sekumpulan kompetensi atau kemampuan yang harus di miliki dan dipahami oleh setiap guru, dan juga harus mampu menerapkannya dalam pendidikan sesuai dengan bidang keahliannya dan sesuai dengan peranannya.

4. Kompetensi Sosial
Membimbing, mengajar dan melatih adalah tugas guru dalam pengajaran. Membimbing berarti memberikan bimbingan kepada siswa dalam interaksi belajarmengajar agar siswa mampu belajar lacar dan berhasil. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anak didik. Melatih berarti mengembangkan keterampilan dalam kehidupan demi masa depan anak didik. Mengajar merupakan suatu tugas yang luhur bagi guru. Seorang guru yang mempunyai tugas sebagai pendidik harus mempunyai kesenangan bekerja sama dengan orang lain atau dengan kata lain harus mempunyai sifat-sifat sosial yang besar. Karena selain mengajar di sekolah, guru harus dapat mengabdi diri di masyarakat yaitu dengan memberikan jasa pada masyarakat dan keharmonisan. Untuk itu guru harus memiliki adanya kompetensi sosio-kultural. Dengan demikian guru akan mampu berkomunikasi sosial baik terhadap sesama guru siswa, kepala sekolah, siswa dan tidak lupa juga dengan anggota masyarakat dan lingkungannya.
Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua atau wali murid, dan masyarakat sekitar. Kompetensi ini memiliki subkompetensi dengan indikator esensial sebagai berikut.
a. Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik. Sub kompetensi ini memiliki indikator esensial, berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik.
b. Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik dan tenaga kependidikan.
c. Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua atau wali murid dan masyarakat sekitar.
Perlu dijelaskan bahwasanya keempat kompetensi tersebut dalam praktiknya merupakan satu kesatuan utuh (holistik) yang dapat diperoleh melalui pendidikan akademik sarjana atau diploma empat, pendidikan profesi guru ataupun melalui pembinaan dan pengembagan profesi guru. Pembinaan dan pengembangan profesi guru dalam jabatan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kompetensi maupun untuk pengembangan karir guru.



BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Ada empat jenis kompetensi guru yaitu:
  1. Kompetensi pedagogik; Guru yang baik (ideal) adalah guru yang mampu melaksanakan/menjalankan tugasnya yang berkaitan dengan anak didik dengan baik.
  2. Kompetensi profesional; Sebagai tenaga professional seorang guru dituntut untuk mengetahui, memahami, serta melaksanakan tugasnya dengan baik terkait dengan profesinya sebagai guru.
  3. Kompetensi kepribadian; Seorang guru harus mempunyai kepribadian yang menarik, yakni suatu kepribadian yang dapat membuat orang lain tertarik dengan dirinya, sehingga orang lain mau mendengarkan apa yang diucapkannya dan mau melaksanakan apa yang diperintahkannya.
  4. Kompetensi sosial; Guru yang baik adalah guru yang mampu bergaul serta peduli dengan orang-orang di sekelilingnya. Seorang guru haruslah memiliki jiwa sosial yang tinggi dengan demikian orang-orang di sekelilinya akan menaruh simpati terhadapnya, dan mau mendengarkan serta menuruti perkataannya.

B. SARAN
1. Untuk seluruh mahasiswa terkhusus yang ada di BLU STAIM jurusan PAI hendaklah mulai berbenah diri untuk menjadi lebih baik dari yang sebelum-sebelumnya. Karena mau tidak mau kita sudah dipersiapkan menjadi seorang guru Agama.
2. Untuk seluruh mahasiswa terkhusus yang ada di BLU STAIM jurusan PAI yang masih setengah-setengah dalam memahami kompetensi guru agar berusaha untuk melengkapi kekurangan-kekurangannya tersebut.
3. Untuk seluruh mahasiswa terkhusus yang ada di BLU STAIM jurusan PAI yang sudah terlebih dahulu menjadi guru baik itu guru honor maupun guru di MDA hendaklah berusaha menerapkannya secara keseluruhan, diharap mampu untuk lebih meningkatkan mutu serta kualitas dari tiap kompetensi-kompetensi yang ada.











DAFTAR PUSTAKA

A. Samana, 1994, Profesionalisme Keguruan, Yogyakarta: Kanisius

Abdur Rahman An-Nahlawi, 1995, Ushul at-Tarbiyah wal-Islamiyah wa Ashalibiha, Terjemah Hery Noer Ali, Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam, Bandung: Diponegoro

Abdur Rahman An Nahlawi, 1995, Ushulut Tarbiyatul Islamiyah wa Asalibuha, Terjemah Hery Noer Ali, Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam, Bandung : Diponegoro

Departeman Agama RI, 1989, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Semarang : Toha Putra

E. Mulyasa, 2006, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Bandung : Remaja Rosda Karya

________, 2009, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Bandung: Rosda Karya

Edi Suardi, 1979, Pedagogik, Bandung: Angkasa OFFSET

Farida Sarimaya, 2008, Sertifikasi Guru, Apa, Mengapa, dan Bagaimana?, Jakarta : Rajawali Press

Hafni Ladjid, 2005, Pengembangan Kurikulum Menuju Kurikulum Berbasis Kompetensi, Ciputat : Quantum Teaching

Hamzah B. Uno, 2007, Profesi Kependidikan, Jakarta: Bumi Aksara

Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Menuju Filsafat Ilmu dan Kesucian Hati Di Bidang-Bidang Insan Ikhsan, disunting oleh KH. Misbach Zainul Mustofa, Semarang: CV. Bintang Pelaja

Kunandar, 2007, Guru Profesional:Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidkan Dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru, Jakarta: Raja Grafindo persada

M. Arifin, 1993, Kapita Selekta Pendidikan, Jakarta: Budi Aksara

Moch. Uzer Usman, 2005, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Muhammad Athiyah Al Abrasyi, t.t, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta : Bulan Bintang
Roestiyah N.K, 1989,Masalah-masalah Ilmu Keguruan, Jakarta: Bina Aksara

Saiful Sagala, 2009, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan, Bandung: Alfabeta

Suparlan, 2005, Menjadi Guru Efektif, Yogyakarta: Hikayat Publishing

Trianto dan Titik Triwulan, 2007, Sertifikasi Guru dan Upaya Peningkatan Kualifikasi Kompetensi dan Kesejahteraan, Jakarta : Prestasi Pustaka Publisher

Team Didaktik Metodik Kurikulum IKIP Surabaya, 1993, Pengantar Didaktik Metodik Kurikulum PBM, Jakarta : Raja Grafindo Persada

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS, (Bandung: Fermana, 2006)

Undang-undang RI, No.14 Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen, (Bandung, Nuansa Aulia, 2006)

Zakiah Daradjat, 1980, Kepribadian Guru, Jakarta: Bulan Bintang